DIKTATOR
Hai kawan bertemu lagi dengan Ahmad
si bocah berisik dari SDN Pamoyanan, Hemmm,,, entah ini kisah atau sebuah
hayalan belaka akupun tak tau,,,
Saat mendengar kata “ DIKTATOR “ apa yang teman – teman semua bayangkan,,?? Kalo Ahmad sih,, hanya berfikir simple aja,, yaitu kejam,,,
Strata kehidupan menjanjikan sebuah kenyamanan bagi siapapun yang mampu memilikinya,, ya itu tuh ,, strata tertinggi,, bisa disebut orang kaya lah,, kita semua sudah pada tahu bila ada orang kaya, pasti ada orang kurang mampu,, itu adalah hukum alam yang tak akan pernah bisa tergantikan dan disangkal oleh semua penghuni kehidupan,, termasuk pak Presiden kita sekalipun,,,
Sebenarnya gak ada yang salah sih dengan kehadiran si kaya dan si miskin,, selama semua aturan main dalam kehidupan dijalankan oleh pemainnya,, namun, kita udah pada tahu pada kenyataan nya,, pemain selalu keluar dari script yang ada yang seharusnya dia perankan,,, rasanya sudah tak asing lagi melihat perbuatan sikaya terhadap si miskin yang seolah – olah itu adalah hak dan kewajiban yang harus dia lakukan,,, mulai dari contoh yang simple, ketika siang menjelang,, semua aktifitas kehidupan manusiapun dimulai,,,
Dari dapur yeng berdinding bilik bambu kehidupan itu berawal, dia seorang petani malang yang miskin, menjadi kepala keuarga yg harmonis dan bijaksana tuk sebuah kasih sayang,,, sebut saja namanya pak Harlan,, beliau lahir pada tanggal 10 juni 1991,, masih tergolong belia dengan kehidupan dia menjadi seorang kepala keluarga dengan seorang istri cantik yang solehah, dan dikaruniai 2 orang anak,, yang bernama Rizza dan Widi,,,
Jam 06.00 tepat, pak Harlan bergegas mengambil air ke sumur yang gak jauh dari rumahnya, seperti biasa yang sering kita lakukan klo pagi hari aktifitas kita ya masak, mandi dan saiap-siap menuju aktifitas berikutnya,,, pagi itu gak ada aktifitas yg aneh sih dari keluarga kecil tersebut,, Cuma, yang aku heran,, kok pak Harlan punya kostum lain,, kan yang aku kenal beliau seorang petani dan buruh serabut,, tapi, kali ini aku lihat berbeda dengan penampilannya yang terlihat rapi, gagah dan berwibawa dengan sebuah seragam coklat di bapadnya, pikirku mungkin beliau mau mencari kerja lain tuk menunjang penghasilannya,,,
Tapi, ternyata apa yang aku pikirkan salah,,, waktpun terus berjalan,, hingga tepat pukul 07.00, tetotttt,,,, panggilan cempreng untuk orang yang bernama Ahmad,,, ahmaaaaaaaaaaddddddddddddddd,,,,, waduh,,,, ya, aku lupa deh,, siap – siap kena hantam nih,, tapi jangan pikir aneh dulu ya,, maksudku kena ocehan bunda,,,,, heeee,,,, tapi agak sedikit tenang si, karena aku udah rapi Cuma belum sarapan aja,, buru – buru kutinggal pandanganku terhadap pak Harlan tuk sejenak sarapan sebelum berangkat, dan nampak kulihat dari jendela bahwa pak Ahmad juga sudah nampak berjalan dengan semua properti yang ia bawa, tas besar hitam yang ia gendong nampak berat sekali, dan berkas – berkas yang terlihat begitu banyak di tangannya,,
Alhamdulillah, kenyang juga,, Bu, Ahmad mau berangkat dulu ya,, Assalamu’alaikum, jarak rumahku dengan sekolah memang gak terlalu jauh, hanya 10 menit saja sudah nyampe, Hai teman – teman, maf ya aku terlambat, heee,,, maklum banyak kerjaan, temanku nyahut, hah,, Ahmad kerja, si pemalas cerewet yang hanya main sama pulpen dan buku banyak kerjaan,, paling – paling kerjaanmu Cuma mandangi Pa Harlan aja si petani muda yang malang,, heee,, kamu tuh Fir tau aja kebiasaanku,, saat masuk kelas dan belajar sudah tiba,,, jam pelajaran pertama adalah Pelajaran Matematika yg lumayan menyenangkan kalo lagi pas materi yang aku bisa, heee,, maklum agak sedikit lelet menghafal rumus – rumus matematika,, tapi kok tumben ya guru kelas kami terlambat datang,, Bu Rosita guru adalah guruku,, hmmm,, jam pun menunjukan pukul 08. Bu rosita masih belum datang juga, tiba – tiba ada suara mengetuk pintu kelas kami,, Assalamu’alaikum sahut lelaki di balik pintu,,, wa’alaikum salam,, kami berempat hanya terbengong seraya berucap,,, Firman, Ikbal, Ajiz dan Ardi adalah temanku, mereka berempat berucap, loh,, kok pak Harlan tetanggamu Mad,, akupun gak tau dan gak menyangka,,, bukankah dia seorang petani, tapi kok bisa ya masuk sekolah dan mengajar di kelasku, kalopun dia seorang guru tapi kita gak pernah melihatnya selama ini,,,
Ya, sudahlah pikirku dengan teman – teman, mari kita nikmati aja lantuna suara dan aksi dia dalam pelajaran ini,,, wow,, setelah pelajaran matematika usai kami berlima gak menyangka, kalo dia jago juga dan kelihatan berpengalaman, bel istirahatpun berbunyi, saat nya kita out yu teman – teman, kami berlima bergegas keluar, eh pas di lorong kelas kami bertemu dengan guru kelas 6 namanya pak Asep Kustiawan, sedikit takut sih kalo bertemu beliau, soalnya agak pendiam dan kalo lagi marah suka gimana gitu, tapi, ah rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku, kami pun bertanya ya terutama aku, kalian pasti udah tau kan apa yang akan aku dan temanku tanyakan,, yupz, jawaban kalian benar, pak Harlan,,, itu yang akan kami tanyakan, maaf pak, sambil cium tangan dan berucap salam, ya ada apa jawab pak Asep, kami mau bertanya tentang guru yang masuk ke kelas kami menggantikan bu Rosita, owh, pak Harlan beliau menjawab, ya, ya silahkan kalian mau bertanya apa tentangnya,,? Sahut pak Asep, sebenarnya beliau itu siapa, dan sejak kapan jadi pengajar di sekolah ini, terus, kok gak pernah kelihatan selama setahun ini, apa dia guru baru,,? Ayo jawab pak, tanpa kusadari pertanyaanku ternyata membuat pak Asep agak sedikit kesal, heee,, maf pak saking penasarannya, ya gak apa – apa Ahmad, beliau sebenarnya udah lama di sekolah ini, kira – kira sekitar 3 Tahunan lebih, cuman dia jarang ke sekolah karena dia tidak bertugas menjadi seorang pengajar, dia hanya bertungas menjadi seorang Operator Sekolah, ohh,, gitu ya pak,, makasih atas penjelasannya sambil terburu – buru kabur karena takut dimarhi, tersadar bahwa pakaianku gak dimasukan,,,
Akhirnya rasa penasaran kamipun terobati dengan penjelasan pak asep, oh, ternyata pak Harlan adalah seorang operator sekolah, dan itu sekolah kita diskusiku dengan teman – teman, obrolan kitapun berlanjut sampai kita membahas keadaan ekonomi pak Harlan yang jauh dari layak, Fir, coba kamu bayangin aja, kerjaan yang ada di tangan yang begitu numpuk, dan di tas hitam yang ia gendong serta tas kecil di tangannya, dia masih kekurangan dalam ekonominya, sekolah pun telah usai karena guru – guru beserta kepala sekolah mau menghadiri acara di suatau tempat, ya bisa disebtkan kegiatan dinas, asyiikkk teriak kami semua, bisa pulang cepat,,
Sampainya dirumah, akupun kembali berada disamping jendela tempatku menatap tajam rumah pak Harlan yang ternyata operator sekolahku sendiri, rasa penasarnku makin tinggi setelah melihat sosok perempuan cantik yang terlihat sedikit kusam namun masih terlihat anggun dan menawan,, hem,,, sedikit memberanikan diri mendatangi beliau sembari membawa pisang goreng dan singkong goreng tuk menemani percakapan kami, maf bu permisi, eh, nak Ahmad, ya, ada apa nak,,? Gak apa – apa kok bu, Cuma igin ngobrol – ngobrol aja ma ibu, lagi kesel dirumah, karena mamah lagi pergi ke pasar, nih bu lumayan buat cemilan kita ngobrol, ah nak Ahmad repot – repot, beliau berkata sambil berjalan kedalam rumah, ia mengambil gelas dengan poci kecil tempat air minum, heee, duh ibu tau aja kalo ahmad udah haus, kamipun mulai ngobrol panjang lebar mulai dari awal pernikahan, punya anak sampai kerjaan pak Ahmad, nah ini dia yang aku tunggu – tunggu,, what, aku kaget bukan maen, maf bbu, saya gak bermaksud membuat ibu menangis, ya gak apa – apak nak, obrolan panjang kami yang begitu membuatku meneteskan air mata,, Astagfirullah,, sungguh mulia ternyata pak Harlan, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan rizki yang banyak buat beliau beserta keluarga,,,
Miris aku mendengar semua cerita keluarga pak Harlan, ternyata beliau adalah seorang pekerja keras, pagi sampai sore ia bekerja jadi petani dan kadang buruh serabutan dengan upah yang nampak begitu minim, bahkan kurang tuk mencukupi keperluan keluarganya per hari, 40 ribu dari pagi sampe sore, selpas maghrib, layaknya kita itu adalah waktu bersantai dan beristirahat, tapi tidak dengan pak Harlan, selepas shalat isya, bukan istirahat yang dia lakukan, tapi melakukan kegiatan rutinya sebagai operator sekolah dengan setumpuk berkas – berkas yang kita tau sendiri berapa penghasilan perbulannya,, hempt, tidak adil rasanya kehidupan ini, orang lain yang merasakan nikmat, sementara pak Harlan yang harus berjuang tak kenal waktu tuk melaksanakan tugas nya, namun hasil yang ia dapatkan tak sesuai dengan apa yang ia kerjakan, bekerja sampai larut malam, bahkan sampai ia tidak tidur semalaman hanya tuk melihat wajah seseorang tersenyum,,,
Bukti kehidupan yang tak adil dengan semua pemerannya, coba, kita fikir, sebenarnya siapa yang salah, Pak Harlan, Atasannya, ataukah atasannya lagi, memang perlu dikupas, namun, siapakah yang bisa mengupasnya, aku hanya seorang bocah SD yang belum tau apa – apa,inilah mengapa aku menyimpulkan, bahwa kata – kata kejam tuk “ DIKTATOR “ tidak berlebihan bukan dengan pengalam yang pak Harlan alami, percakapanku dengan istri pak Harlan membuka jalan tuk bisa lebih dekat dengan keluarganya, sosok seorang pekerja keras walupun dia selalu terdzalimi oleh keadaan namun dia tetap sabar dan pasrah akan apa yang dialamainya, kamipun semakin akrab dan erat, bahkan aku sering belajar dengan beliau,
Saat mendengar kata “ DIKTATOR “ apa yang teman – teman semua bayangkan,,?? Kalo Ahmad sih,, hanya berfikir simple aja,, yaitu kejam,,,
Strata kehidupan menjanjikan sebuah kenyamanan bagi siapapun yang mampu memilikinya,, ya itu tuh ,, strata tertinggi,, bisa disebut orang kaya lah,, kita semua sudah pada tahu bila ada orang kaya, pasti ada orang kurang mampu,, itu adalah hukum alam yang tak akan pernah bisa tergantikan dan disangkal oleh semua penghuni kehidupan,, termasuk pak Presiden kita sekalipun,,,
Sebenarnya gak ada yang salah sih dengan kehadiran si kaya dan si miskin,, selama semua aturan main dalam kehidupan dijalankan oleh pemainnya,, namun, kita udah pada tahu pada kenyataan nya,, pemain selalu keluar dari script yang ada yang seharusnya dia perankan,,, rasanya sudah tak asing lagi melihat perbuatan sikaya terhadap si miskin yang seolah – olah itu adalah hak dan kewajiban yang harus dia lakukan,,, mulai dari contoh yang simple, ketika siang menjelang,, semua aktifitas kehidupan manusiapun dimulai,,,
Dari dapur yeng berdinding bilik bambu kehidupan itu berawal, dia seorang petani malang yang miskin, menjadi kepala keuarga yg harmonis dan bijaksana tuk sebuah kasih sayang,,, sebut saja namanya pak Harlan,, beliau lahir pada tanggal 10 juni 1991,, masih tergolong belia dengan kehidupan dia menjadi seorang kepala keluarga dengan seorang istri cantik yang solehah, dan dikaruniai 2 orang anak,, yang bernama Rizza dan Widi,,,
Jam 06.00 tepat, pak Harlan bergegas mengambil air ke sumur yang gak jauh dari rumahnya, seperti biasa yang sering kita lakukan klo pagi hari aktifitas kita ya masak, mandi dan saiap-siap menuju aktifitas berikutnya,,, pagi itu gak ada aktifitas yg aneh sih dari keluarga kecil tersebut,, Cuma, yang aku heran,, kok pak Harlan punya kostum lain,, kan yang aku kenal beliau seorang petani dan buruh serabut,, tapi, kali ini aku lihat berbeda dengan penampilannya yang terlihat rapi, gagah dan berwibawa dengan sebuah seragam coklat di bapadnya, pikirku mungkin beliau mau mencari kerja lain tuk menunjang penghasilannya,,,
Tapi, ternyata apa yang aku pikirkan salah,,, waktpun terus berjalan,, hingga tepat pukul 07.00, tetotttt,,,, panggilan cempreng untuk orang yang bernama Ahmad,,, ahmaaaaaaaaaaddddddddddddddd,,,,, waduh,,,, ya, aku lupa deh,, siap – siap kena hantam nih,, tapi jangan pikir aneh dulu ya,, maksudku kena ocehan bunda,,,,, heeee,,,, tapi agak sedikit tenang si, karena aku udah rapi Cuma belum sarapan aja,, buru – buru kutinggal pandanganku terhadap pak Harlan tuk sejenak sarapan sebelum berangkat, dan nampak kulihat dari jendela bahwa pak Ahmad juga sudah nampak berjalan dengan semua properti yang ia bawa, tas besar hitam yang ia gendong nampak berat sekali, dan berkas – berkas yang terlihat begitu banyak di tangannya,,
Alhamdulillah, kenyang juga,, Bu, Ahmad mau berangkat dulu ya,, Assalamu’alaikum, jarak rumahku dengan sekolah memang gak terlalu jauh, hanya 10 menit saja sudah nyampe, Hai teman – teman, maf ya aku terlambat, heee,,, maklum banyak kerjaan, temanku nyahut, hah,, Ahmad kerja, si pemalas cerewet yang hanya main sama pulpen dan buku banyak kerjaan,, paling – paling kerjaanmu Cuma mandangi Pa Harlan aja si petani muda yang malang,, heee,, kamu tuh Fir tau aja kebiasaanku,, saat masuk kelas dan belajar sudah tiba,,, jam pelajaran pertama adalah Pelajaran Matematika yg lumayan menyenangkan kalo lagi pas materi yang aku bisa, heee,, maklum agak sedikit lelet menghafal rumus – rumus matematika,, tapi kok tumben ya guru kelas kami terlambat datang,, Bu Rosita guru adalah guruku,, hmmm,, jam pun menunjukan pukul 08. Bu rosita masih belum datang juga, tiba – tiba ada suara mengetuk pintu kelas kami,, Assalamu’alaikum sahut lelaki di balik pintu,,, wa’alaikum salam,, kami berempat hanya terbengong seraya berucap,,, Firman, Ikbal, Ajiz dan Ardi adalah temanku, mereka berempat berucap, loh,, kok pak Harlan tetanggamu Mad,, akupun gak tau dan gak menyangka,,, bukankah dia seorang petani, tapi kok bisa ya masuk sekolah dan mengajar di kelasku, kalopun dia seorang guru tapi kita gak pernah melihatnya selama ini,,,
Ya, sudahlah pikirku dengan teman – teman, mari kita nikmati aja lantuna suara dan aksi dia dalam pelajaran ini,,, wow,, setelah pelajaran matematika usai kami berlima gak menyangka, kalo dia jago juga dan kelihatan berpengalaman, bel istirahatpun berbunyi, saat nya kita out yu teman – teman, kami berlima bergegas keluar, eh pas di lorong kelas kami bertemu dengan guru kelas 6 namanya pak Asep Kustiawan, sedikit takut sih kalo bertemu beliau, soalnya agak pendiam dan kalo lagi marah suka gimana gitu, tapi, ah rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku, kami pun bertanya ya terutama aku, kalian pasti udah tau kan apa yang akan aku dan temanku tanyakan,, yupz, jawaban kalian benar, pak Harlan,,, itu yang akan kami tanyakan, maaf pak, sambil cium tangan dan berucap salam, ya ada apa jawab pak Asep, kami mau bertanya tentang guru yang masuk ke kelas kami menggantikan bu Rosita, owh, pak Harlan beliau menjawab, ya, ya silahkan kalian mau bertanya apa tentangnya,,? Sahut pak Asep, sebenarnya beliau itu siapa, dan sejak kapan jadi pengajar di sekolah ini, terus, kok gak pernah kelihatan selama setahun ini, apa dia guru baru,,? Ayo jawab pak, tanpa kusadari pertanyaanku ternyata membuat pak Asep agak sedikit kesal, heee,, maf pak saking penasarannya, ya gak apa – apa Ahmad, beliau sebenarnya udah lama di sekolah ini, kira – kira sekitar 3 Tahunan lebih, cuman dia jarang ke sekolah karena dia tidak bertugas menjadi seorang pengajar, dia hanya bertungas menjadi seorang Operator Sekolah, ohh,, gitu ya pak,, makasih atas penjelasannya sambil terburu – buru kabur karena takut dimarhi, tersadar bahwa pakaianku gak dimasukan,,,
Akhirnya rasa penasaran kamipun terobati dengan penjelasan pak asep, oh, ternyata pak Harlan adalah seorang operator sekolah, dan itu sekolah kita diskusiku dengan teman – teman, obrolan kitapun berlanjut sampai kita membahas keadaan ekonomi pak Harlan yang jauh dari layak, Fir, coba kamu bayangin aja, kerjaan yang ada di tangan yang begitu numpuk, dan di tas hitam yang ia gendong serta tas kecil di tangannya, dia masih kekurangan dalam ekonominya, sekolah pun telah usai karena guru – guru beserta kepala sekolah mau menghadiri acara di suatau tempat, ya bisa disebtkan kegiatan dinas, asyiikkk teriak kami semua, bisa pulang cepat,,
Sampainya dirumah, akupun kembali berada disamping jendela tempatku menatap tajam rumah pak Harlan yang ternyata operator sekolahku sendiri, rasa penasarnku makin tinggi setelah melihat sosok perempuan cantik yang terlihat sedikit kusam namun masih terlihat anggun dan menawan,, hem,,, sedikit memberanikan diri mendatangi beliau sembari membawa pisang goreng dan singkong goreng tuk menemani percakapan kami, maf bu permisi, eh, nak Ahmad, ya, ada apa nak,,? Gak apa – apa kok bu, Cuma igin ngobrol – ngobrol aja ma ibu, lagi kesel dirumah, karena mamah lagi pergi ke pasar, nih bu lumayan buat cemilan kita ngobrol, ah nak Ahmad repot – repot, beliau berkata sambil berjalan kedalam rumah, ia mengambil gelas dengan poci kecil tempat air minum, heee, duh ibu tau aja kalo ahmad udah haus, kamipun mulai ngobrol panjang lebar mulai dari awal pernikahan, punya anak sampai kerjaan pak Ahmad, nah ini dia yang aku tunggu – tunggu,, what, aku kaget bukan maen, maf bbu, saya gak bermaksud membuat ibu menangis, ya gak apa – apak nak, obrolan panjang kami yang begitu membuatku meneteskan air mata,, Astagfirullah,, sungguh mulia ternyata pak Harlan, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan rizki yang banyak buat beliau beserta keluarga,,,
Miris aku mendengar semua cerita keluarga pak Harlan, ternyata beliau adalah seorang pekerja keras, pagi sampai sore ia bekerja jadi petani dan kadang buruh serabutan dengan upah yang nampak begitu minim, bahkan kurang tuk mencukupi keperluan keluarganya per hari, 40 ribu dari pagi sampe sore, selpas maghrib, layaknya kita itu adalah waktu bersantai dan beristirahat, tapi tidak dengan pak Harlan, selepas shalat isya, bukan istirahat yang dia lakukan, tapi melakukan kegiatan rutinya sebagai operator sekolah dengan setumpuk berkas – berkas yang kita tau sendiri berapa penghasilan perbulannya,, hempt, tidak adil rasanya kehidupan ini, orang lain yang merasakan nikmat, sementara pak Harlan yang harus berjuang tak kenal waktu tuk melaksanakan tugas nya, namun hasil yang ia dapatkan tak sesuai dengan apa yang ia kerjakan, bekerja sampai larut malam, bahkan sampai ia tidak tidur semalaman hanya tuk melihat wajah seseorang tersenyum,,,
Bukti kehidupan yang tak adil dengan semua pemerannya, coba, kita fikir, sebenarnya siapa yang salah, Pak Harlan, Atasannya, ataukah atasannya lagi, memang perlu dikupas, namun, siapakah yang bisa mengupasnya, aku hanya seorang bocah SD yang belum tau apa – apa,inilah mengapa aku menyimpulkan, bahwa kata – kata kejam tuk “ DIKTATOR “ tidak berlebihan bukan dengan pengalam yang pak Harlan alami, percakapanku dengan istri pak Harlan membuka jalan tuk bisa lebih dekat dengan keluarganya, sosok seorang pekerja keras walupun dia selalu terdzalimi oleh keadaan namun dia tetap sabar dan pasrah akan apa yang dialamainya, kamipun semakin akrab dan erat, bahkan aku sering belajar dengan beliau,